Depan > Index Artikel > MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN KETERAMPILAN MELALUI KONSEP LEARNING ORGANIZATION DALAM PROGRAM KKB MENYONGSONG ERA SJSN TAHUN 2014
MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN KETERAMPILAN MELALUI KONSEP LEARNING ORGANIZATION DALAM PROGRAM KKB MENYONGSONG ERA SJSN TAHUN 2014
Rabu, 5 Februari 2014  |  BkkbN
oleh :
Rangga Walessa, S.Psi
Widyaiswara Pertama

A. Latar belakang
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk di Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa, angka ini melebihi proyeksi penduduk tahun 2010 sebesar 3,4 juta jiwa dari proyeksi sebesar  234,2 juta jiwa. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan penduduk mengalami peningkatan dari hasil sensus sebelumnya yaitu 1,49 pada sensus penduduk tahun 2010. Kemudian Total Fertility Rate (TFR) dalam kurun waktu 10 tahun (2002 – 2012) yang masih stagnan pada angka 2,6 per wanita usia subur.  Selain itu dari hasil SDKI tahun 2012 menunjukan masih rendahnya CPR cara modern yaitu sebesar 57,9 persen dari total Pasangan Usia Subur yang ada. dan juga masih tingginya unmeet need sekitar 8,5 persen dari pasangan usia subur yang ingin menggunakan alat dan obat kontrasepsi  tetapi tidak dapat terlayani karena berbagai sebab.  

Dari latar belakang diatas, permasalahan yang muncul khusunya sejak era Otonomi Daerah di tahun 2004 sampai dengan sekarang dan juga berdasarkan data dan fakta yang ada dilapangan adalah sebagai berikut:  
1. Nomenklatur Kelembagaan yang berubah dari BKKBN menjadi Kantor atau Badan PP KB
2. SDM pengelola penyuluh KKB baik kualitas maupun kuantitasnya relatif berkurang drastis.
3. Pembiayaan yang berasal dari DAU kurang memadai, sehingga kegiatan operasional berbeda jenis dengan sebelum Otonomi Daerah
4. Mekanisme operasional yang standar tidak sama lagi, sehingga hasil pelayanan KKB tidak optimal  
 
Untuk mengatasi permasalahan diatas, BKKBN telah mengeluarkan beberapa kebijakan  yang telah dilaksanakan sebagai solusi sementara dalam mengantisipasi perubahan program KKB semenjak Otonomi Daerah, antara lain :
1. Menerbitkan  UU no. 52 tahun 2009, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
2. lalu Perpres no. 62 tahun 2010, tentang kelembagaan BKKBN dan Perwakilan BKKBN Provinsi 
3. Adanya peningkatan pembiayaan APBN bagi Program KKB dalam 5 tahun terakhir.
4. Adanya penerapan budaya kerja CUK (Cerdas, Ulet dan Kemitraan) bagi BKKBN
5. Adanya DAK bidang KB untuk penyediaan sarana Muyan, Mupen, sepeda motor, dll bagi SKPD KB Kabupaten / Kota.
6. Adanya pengembangan Teknologi Informasi (TI) dalam sistem Pencatatan dan Pelaporan program KKB.
7. Melaksanakan MOU yang dilakukan secara nasional, sehingga memunculkan berbagai momentum. Antara lain: Baksos TNI KB, PKK KB-KES, KB-KES Bhayangkari, IBI, Muslimat NU, Aisyyah, dll.

Dari berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan tersebut, terlihat hasil program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) dari hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 dan SDKI Tahun 2012, maka hasil program KKB yang telah dicapai belum bisa meyakinkan kita, guna mewujudkan target – target RPJMN pada akhir 2014. Hal ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini :

No indikator Realisasi2012 Target RPJMN 2014
1. LPP                     1,49 1,1 
2. TFR                     2,6 2,1 
3. CPR                     57 % 65 % 
4. Unmeetneed     8,5 % 5 % 
5. KB Pria             4,3 % 4,6 % 
6. MKJP                     12,9 % 13,3% 

Dari hasil program KKB yang tergambarkan pada hasil Sensus Penduduk 2010 dan SDKI 2012 dapat mengindikasikan bahwa sasaran yang telah ditetapkan pada RPJMN 2010-2014 sulit untuk tercapai, untuk itu perlu dilakukan akselerasi strategi dan upaya guna mewujudkan tujuan RPJMN pada akhir tahun 2014, serta persiapan SJSN tahun 2014. Maka akselerasi strategi program KKB adalah sebagai berikut: 

1. Pemutakhiran Data Sasaran melalui Pendataan Keluarga
Dalam melaksanakan Pendataan Keluarga tahun 2013 diharapkan dapat menghimpun data sasaran KKB secara akurat. Data yang perlu disediakan antara lain:
1) Jumlah Pasangan Usia Subur
2) Jumlah peserta KB aktif dengan Mix Kontrasepsi
3) Jumlah PUS tergolong : Unmeetneed, ibu hamil, ibu ingin anak ditunda, ibu ingin anak segera, dan ibu tidak ingin anak lagi 

2. Pemantapan Management KKB di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum
Dokter penanggung jawab
Tenaga bidan
Tenaga perawat 
Tenaga administrasi 
Sarana KKB seperti: IUD kit, Implant Kit, alat/obat Kontrasepsi.
Dokter Ginekology
Tenaga Penyuluh KB setiap kelurahan/desa 1 orang.
catatan: kekurangan dapat diambil dari PPKBD, Penyuluh Agama (KEMENAG), dan Pendamping PKH (Dinas Sosial).

3. Penggerakan 
Melalui KIE KKB dan KIP / Konseling  dengan Sasaran utama :
1) PA agar menjadi peserta KB lestari dengan mencegah DO dan Kegagalan
2) Ibu hamil,  sosialisasi di keluarganya agar dapat mengenal 3T dan materi lainnya ( periksa ibu hamil, persalinan di nakes, perawatan nifas dan KB pasca salin/keguguran).
3) Unmeetneed, guna mendapatkan pelayanan KB

 Selain akselerasi strategi diatas diperlukan juga upaya – upaya dalam rangka persiapan era Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang terkait dengan bidang KKB antara lain: 
1. Peningkatan Kuantitas dan kualitas SDM Penyuluh KB di lini lapangan, melalui :
Pelatihan LDU bagi calon PKB yang berasal dari tenaga bidan desa, penyuluh agama, pendamping PKH dan PPKBD yang memenuhi persyaratan.
Pelatihan KIE dan KIP/ Konseling bagi Penyluh KB.
Pelatihan CTU bagi bidan dan dokter yang belum dilatih. 
2. Pemetaan kondisi Klinik KB dan PKBRS
A. Pengelola 
Penanggung jawab
Bidan
Perawat
Tenaga administrasi 
B. Sarana
IUD Kit
Ginekology bed
Alat/obat Kontrasepsi 
ABPK dan Lembar Balik
Brosur dan Leaflet
C. Biaya operasional 
Klinik KB
Pengayoman
Operasional KIP/K bagi PKB
Operasional petugas klinik KB / PKBRS

B. Learning Organization
Terakhir guna mewujudkan target RPJMN tahun 2014 yang dilakukan dengan akselerasi program KKB, perlu didukung oleh suatu konsep management yang dinamakan Learning organization atau organisasi pembelajar. Istilah ini di populerkan,  setelah Peter Senge melontarkan gagasannya dalam buku Fifth Discipline. Menurut Peter Senge Learning organization atau organisasi pembelajar adalahsuatu organisasi dimana anggotanya terus menerus meningkatkan kapasitasnya untuk memperoleh tujuannya, dengan mengembangkan pola pikir baru , dengan aspirasi pikiran yang bebas dan terus menerus bersama - sama malakukan pembelajaran (Senge,1990). Dr. Peter Senge dalam hal ini menyebutkan bahwa inti dari Organisasi Pembelajar adalah Disiplin Kelima (The Fifth Discipline), kelima disiplin itu adalah:

1. Keahlian Pribadi (Personal Mastery)
Penguasaan pribadi adalah suatu budaya dan norma lembaga yang terdapat dalam organisasi yang diterapkan sebagai cara bagi semua individu dalam organisasi untuk bertindak dan melihat dirinya. Penguasaan pribadi merupakan suatu disiplin yang antara lain menunjukkan kemampuan untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kesabaran, dan memandang realitas secara obyektif. Penguasaan pribadi juga merupakan kegiatan belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita untuk menciptakan hasil yang paling kita inginkan, dan menciptakan suatu lingkungan organisasi yang mendorong semua anggotanya mengembangkan diri mereka sendiri kearah sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan yang mereka pilih.

2. Model Mental (Mental Model)
Model mental adalah suatu prinsip yang mendasar dari Organisasi Pembelajar, karena dengannya organisasi dan individu yang ada di dalamnya diperkenankan untuk berpikir dan merefleksikan struktur dan arahan (perintah) dalam organisasi dan juga dari dunia luar selain organisasinya. Senge menyebutkan bahwa model mental adalah suatu aktivitas perenungan, terus menerus mengklarifikasikan, dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia, dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita.
Model mental terkait dengan bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan bagaimana dia melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi. Model mental merupakan suatu pembuatan peta atau model kerangka kerja dalam setiap individu untuk melihat bagaimana melakukan pendekatan terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan kata lain, model mental bisa dikatakan sebagai konsep diri seseorang, yang dengan konsep diri tersebut dia akan mengambil keputusan terbaiknya.

3. Visi Bersama (Shared Vision)
Visi bersama adalah suatu gambaran umum dari organisasi dan tindakan (kegiatan) organisasi yang mengikat orang-orang secara bersama-sama dari keseluruhan identifikasi dan perasaan yang dituju. Dengan visi bersama organisasi dapat membangun suatu rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan membuat gambaran-gambaran bersama tentang masa depan yang coba diciptakan, dan prinsip-prinsip serta praktek-praktek penuntun yang melaluinya kita harapkan untuk bisa mencapai masa depan.

4. Pembelajaran Tim (Team Learning)
Belajar Tim adalah suatu keahlian percakapan dan keahlian berpikir kolektif, sehingga kelompok-kelompok manusia secara dapat diandalkan bisa mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar dari pada jumlah bakat para anggotanya. Public learning sendiri mengarah pada prinsip-prinsip melalui individu-individu yang didorong untuk belajar secara terbuka dan menggali apa yang tidak mereka ketahui sekarang.

5. Pemikiran Sistem (System Thinking)
Pemikiran sistem (berpikir sistem) adalah suatu kerangka kerja konseptual. Yaitu suatu cara dalam menganalisis dan berpikir tentang suatu kesatuan dari keseluruhan prinsip-prinsip Organisasi Pembelajar. Tanpa kemampuan menganalisis dan mengintegrasikan disiplin-disiplin Organisasi Pembelajar, tidak mungkin dapat menerjemahkan disiplin-displin itu kedalam tindakan (kegiatan) organsasi yang lebih luas.
Sekarang ini konsep model managemen Learning organization semakin memainkan peran penting, vital dan strategis dalam meningkatkan kapasitas aparatur dan organisasi pemerintahan. Sehingga akan berimplikasi sesuai dengan pendapat dari Schwandt (Carrell et al., 2005), yang menyatakan bahwa, learning organization sebagai : “system of action, actors, symbols, and processes that enables an organization to transform information into valued knowledge, which in turn increase its long-run adaptive capacity”.

C. Kesimpulan dan Rekomendasi
Akhirnya dapat diambil beberapa kesimpulan rekomendasi, sebagai berikut : pertama para pemangku kebijakan di setiap tingkatan yang ada dalam program KKB dapat bekerjasama, saling menghargai dalam mewujudkan tujuan RPJMN di akhir 2014, kedua dapat menyiapkan perubahan management pengelolaan klinik KB di Puskesmas maupun di PKBRS, sehingga dapat memperlancar tugas – tugas di dalam pelayanan Kontrasepsi KB, baik untuk PB maupun pembinaan PA, ketiga; dapat menunjang terlaksananya SJSN di bidang KB, sehingga target – target MDG’s akan terwujud pada akhir 2015 dan yang keempat merekomendasikan agar melalui model management pengembangan Learning Organization yang dikembangkan dapat membantu proses perubahan pola pikir,  kinerja dan peningkatan kapasistas aparatur BKKBN di masa yang akan datang. Sekian terimakasih.

Referensi  pustaka:
1. Senge, Peter, M (1990), The Fifth Dicipline (The Art and Pratice of The Learning
Organization), Doubleday Dell Publishing Group.
2. Carrell, Michael R., Norbert F. Elbert and Robert D. Hatfield, (2005), Human Resource
Management Global Strategies for Managing a Diverse Work Force, Fifth Edition.
Prentice Hall. Englewood.
3. Hand out Materi Program Kependudukan dan KB. 2013. Rakerda Kependudkan dan KB Provinsi Banten. Perwakilan BKKBN Provinsi Banten.